Senin, 15 Juni 2015

Telaga Warna Puncak, Bogor




Telaga Warna Puncak, Bogor adalah objek wisata alam yang terletak di kawasan perkebunan teh, Puncak, Bogor. Telaga Warna yang berada di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor ini terletak sekitar 200 meter sebelum rumah makan Rindu Alam setelah Masjid At-Ta'awun. Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari arah Bogor hanya memerlukan waktu kurang lebih 45 menit dalam kondisi jalan yang normal tanpa macet. 


Papan sambutan di loket masuk Telaga Warna


Telaga Warna, Puncak - Bogor

Dari sebelah kiri tepi jalan raya Puncak, jalan masuk menuju Telaga Warna memang agak tertutup oleh kios-kios sayuran dan buah. Dengan berjalan kaki melalui jalan setapak dapat ditempuh kurang lebih 10 menit. Sementara bagi yang menggunakan kendaraan pribadi dapat melalui jalan masuk yang berada setelah rumah makan Mel Rimba. Jalan berbatu ini terhubung sampai di depan loket masuk. Untuk hari biasa, wisatawan domestik hanya perlu merogoh kocek Rp. 5,000/orang sementara wisatawan mancanegara dikenakan Rp. 100,000/orang. Pada hari libur, wisatawan domestik dikenakan Rp. 7,500/orang dan wisatawan mancanegara Rp. 150,000/orang. Tarif ini belum termasuk kendaraan yang dibawa baik mobil atau motor.


Informasi biaya Telaga Warna, Puncak - Bogor
Depan pintu loket Telaga Warna, Puncak - Bogor

Depan loket masuk Telaga Warna, Puncak - Bogor

Pintu masuk Telaga Warna, Puncak - Bogor

Telaga Warna Puncak Pass Cisarua berbatasan dengan perkebunan teh Ciseureuh dan di sebelah barat dibatasi oleh areal perkebunan teh PTP VII Gunung Mas, tepatnya masuk Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor dilatarbelakangi pegunungan yang menjulang tinggi menambah keindahan panorama alam yang ada. Sebelum ditetapkan sebagai kawasan taman wisata pada tahun 1972, kawasan Telaga Warna Puncak Pass Cisarua, Bogor, merupakan bagian dari kawasan Cagar Alam hutan Gunung Mega Mendung dan hutan Gunung Hambalang. Kawasan taman wisata ini menawarkan panorama alam yang masih asri dan telaga yang menawan sehingga wisatawan dapat menikmatinya dengan berjalan kaki atau mengelilingi danau menggunakan rakit atau perahu yang disewakan.


SK Menteri tentang Taman Wisata Alam Telaga Warna, Puncak - Bogor

Keistimewaan lainnya, di tempat ini dapat dijumpai beberapa jenis flora asli hutan tropika pegunungan, seperti Puspa (Schima wallichii), Kihiur/Saninten (Castanopsis argentea) dan Rasamala (Altingia excelsa) serta beberapa tanaman tingkat rendah, antara lain Paku Tiang, Rame, dan Rotan. Sementara untuk tanaman berbunga, menurut data yang tertulis pada papan informasi dapat dijumpai Kantong Semar (Nephentes gymnamphora) dan Anggrek Kasut (Paphiopedilum javanicum).


Pohon Rasamala, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Wisatawan juga bisa menemui kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang banyak berkeliaran disekitar telaga. Mereka mempertunjukkan atraksi-atraksi kehidupan liar yang menarik untuk dilihat. Didalam hutan dari kawasan ini mungkin masih bisa ditemui primata Surili (Presbytis comata), Lutung (Trachypithecus auratus), dan Owa (Hylobatus moloch). Mamalia yang dapat ditemukan adalah Macan tutul (Panthera pardus) dan Kijang (Muntiacus muntjak). Sementara jenis burung yang masih sering nampak terbang di kawasan isi adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Terdapat juga Burung Hantu (Ottus angelinae).


Ulah kera yang mencari kutu, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Anak-anak kera tengah bermain, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Seekor kera mencuri minuman botol, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Dari legenda yang ada, di kawasan Puncak ini tepatnya di Lereng Gunung Lemo, di pegunungan Megamendung, terdapat sebuah kerajaan bernama Kutatanggeuhan atau Kemuning Kemangi dengan rajanya yang bernama Prabu Sawarna Jaya. Pada suatu saat, puteri kerajaan yang bernama Gilang Rukmini memiliki keinginan agar setiap helai rambutnya dihiasi emas permata. Karena tidak terpenuhi, ia melempar perhiasan yang diberikan sang raja. Ketika perhiasan tersebut berjatuhan, pada saat yang bersamaan timbul keajaiban, bumi berguncang dan dari permukaan tanah keluar air yang semakin lama semakin deras, membesar dan membentuk sebuah telaga sehingga membenamkan kerajaan Kutatanggeuhan beserta isinya. Dari dasar telaga memancar sinar yang berwarna-warni. Dari saat itulah telaga ini dinamakan Telaga Warna.

Selain kisah Kerajaan Ketatanggeuhan, berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, dibalik keindahan panorama alam tersebut, terdapat nuansa mistik yang begitu kental. Sewaktu-waktu, kejadian langka kerap terjadi di danau ini. Misalnya air telaga yang tenang dan jernih itu, sering berubah-ubah warna tanpa sebab yang jelas.

Fenomena seperti itu terus terjadi sampai sekarang, sehingga orang-orang menyebutnya Telaga Warna. Karena keanehan itulah banyak orang yang kebetulan melihat air telaga berubah warna, sering mengambil airnya untuk obat.

Selain itu, cerita lain yang beredar adalah di dalam Telaga Warna, terdapat dua jenis ikan yang hingga kini menjadi misteri. Ikan itu ukurannya besar. Yang berwarna hitam diberi nama si Tihul dan yang kuning dinamakan si Layung. Namun, kedua ikan ini tidak ada yang mengetahui mana yang betina dan mana yang jantannya. Mereka jarang menampakkan diri. Menurut kepercayaan, barang siapa yang mampu melihat ikan itu berenang dan meloncat ke permukaan air maka segala keinginannya akan terkabul. Kabarnya, dua ikan ini sering berpindah-pindah. Sesekali sering terlihat di sumber mata air Sarongge Cianjur, dan kali lain ada di sumber air Ciburial, Bogor. 


Legenda hanyalah legenda. Namanya Telaga Warna, yang konon menampilkan permukaan telaga yang berubah warna namun pada kenyataan aslinya air telaga ini berwarna hijau kekuningan tertimpa cahaya matahari. Airnya tidak bening bahkan cenderung agak keruh. Namun begitu masih bisa merefleksikan pohon, bukit, rakit bahkan langit yang ada diatasnya. Meskipun tidak seindah yang dibayangkan, suasana di sekitar telaga ini cukup tenang dan asri. Cocok sekali untuk refreshing menghilangkan kepenatan rutinitas sehari-hari. Sebenarnya, jika beberapa guest houses yang telah berdiri di samping telaga ini dapat dioperasikan dengan tepat dan para pengunjungnya sadar akan mencintai alam tanpa merusaknya, akan menambah kenyamanan dalam menikmati keindahan telaga ini. 


Guest houses di tepi Telaga Warna, Puncak - Bogor

Kita bisa melihat perilaku kera-kera ekor panjang yang berlompatan dari dahan ke dahan, berlarian kesana kemari yang memang banyak ditemukan di kawasan ini. Selain itu, pihak pengelola juga menawarkan kegiatan yang menantang adrenalin, Flying Fox yang jalurnya membelah Telaga Warna. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, Rp. 15,000/orang untuk sekali lintasan bagi wisatawan lokal, sementara untuk turis asing dikenakan Rp. 50,000/orang.


Anak kera bergantungan, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Kera siap melompat, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Kegiatan Flying Fox, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Ada juga paket yang ditawarkan untuk naik perahu/rakit, out bond dan pendidikan lingkungan hanya sebesar Rp. 50,000.


Diatas rakit, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Panorama disekitar telaga memang indah karena dikelilingi oleh hutan dan kebun teh. Hanya sayangnya tidak dirawat dan dikelola dengan baik sehingga menjadikannya biasa saja. Sepertinya tiket masuk yang murah tidak cukup untuk menopang biaya perawatannya. Sampah yang berserakan terlihat di beberapa tempat di kawasan ini. Hal ini sangatlah merusak pemandangan. Para pengunjung dan penjaja makanan dikawasan ini dalam hal membuang sampah masih perlu disadarkan. Sementara itu, pihak pengelola pun dirasa perlu untuk menambahkan tempat sampah untuk diletakkan dibeberapa tempat.

Keindahan Telaga Warna tak cukup diungkap kata-kata. Inilah danau yang indah. Dibalik itu, ternyata Telaga Warna menyembunyikan sejarah dan cerita yang nyaris luput dari perhatian.


Refleksi hijaunya pepohonan di Telaga Warna, Puncak - Bogor

Setelah menikmati indahnya Telaga Warna, kita dapat menikmati udara segar Puncak dari atas bukit perkebunan teh. Pengunjung dikenai biaya Rp. 4,000/orang. Diluar pembuktian biaya itu sah atau tidak, keindahan hamparan perkebunan teh dan udara yang segar dari atas bukit menambah perjalanan ini kian sempurna.


Wisata kebun teh, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Ditengah hamparan tanaman teh, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Diatas bukit perkebunan teh, Telaga Warna, Puncak - Bogor

Kabut mulai turun di perkebunan teh, Telaga Warna, Puncak - Bogor



Minggu, 24 Mei 2015

Tari Pagar Pengantin





Tarian ini berasal dari Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Tarian ini biasanya ditampilkan saat resepsi pernikahan walaupun terkadang ada yang menggunakan Tari Gending Sriwijaya dalam penikahan adat Palembang. Dua tarian yang berbeda.

Tari Pagar Pengantin memiliki arti khusus, yaitu melambangkan perpisahan pengantin perempuan dari masa remajanya, melepas masa lajang,  berpisah dengan teman-teman sepermainan serta tarian terakhir bagi mempelai puteri karena setelah itu tidak diperkenankan lagi menari di depan umum kecuali atas izin suami. Tindakan-tindakannya tak bebas lagi. Ia sudah berada di lingkaran kehidupan rumah tangga yang direpresentasikan dengan dulang agung keemasan.


Tari Pagar Pengantin

Mempelai puteri menari diatas nampan atau dulang berlapis emas yang berisi bunga berwarna warni. Nampan tersebut mempunyai makna sebagai bunga teratai yang tidak tenggelam akan pasang surut gelombang. Mempelai puteri dipakaikan tanggai dijari jemarinya agar jarinya lentik saat menari. Ini merupakan lambang kebersamaan seperti jari jemari ditangan kita.


Pemakaian tanggai untuk Tari Pagar Pengantin

Mempelai wanita menari diiringi oleh 4 orang penari pengiring yang biasanya adalah saudari perempuan lainnya. Namun saat ini posisi para penari pengiring digantikan oleh penari-penari profesional. Tarian ini dilakukan didepan mempelai pria dan menggambarkan bahwa pengantin wanita tersebut hanya akan bertindak didalam dulang yang menunjukan bahwa wanita pengantin sekarang ruang geraknya terbatas karena sudah menikah. Hal ini mengambarkan bahwa sang pria siap menjaga sang istri. 


Mempelai wanita diiringi 4 penari pengiring dalam Tari Pagar Pengantin

Ini bukan pertama kalinya saya menyaksikan Tari Pagar Pengantin, beberapa kerabat dan teman banyak menggunakan tarian adat Palembang ini dalam prosesi adat pernikahannya. Pada kesempatan baru-baru ini, saya menghadiri resepsi pernikahan sahabat dengan adat budaya Palembang. Mengenakan baju kurung khas  Sumatera Selatan, dan kuku tanggai di jari-jarinya, ia terlihat menari dengan gemulai dan luwesnya. Mata para tamu undangan pun tak lepas mengamatinya dan bertepuk tangan.Sempat bertanya juga, apakah semua pengantin wanita Palembang harus menari seperti ini? Repot juga kalau dijadikan syarat, gumamku. Tetapi jika adat istiadat tidak dilestarikan bukan tidak mungkin ia akan menghilang dan tidak dikenal lagi oleh anak keturunan kita.


Bersama pasangan mempelai pengantin adat Palembang

Menari diatas dulang keemasan

Menari dengan gemulai

Menari dengan luwes


Lirik Lagu Tari Pagar Pengantin:

Aku laksana, aku laksana sekuntum bunga
Kini disunting menghias dalam mahligai kencana
Jangan dikenang, jangan dikenang masa yang lalu
Hatiku pilu bagai disayat buluh sembilu

Dua keluarga kini lah menjadi satu, aduhai sayang
Semoga kekal, hidup bersatu rukun berpadu
Ku mohon ampun pada ayah dan bunda, sanak keluarga
Ku mohon restu doakan kami selalu bahagia.







Minggu, 26 April 2015

Swedia di Peringatan KAA Ke 60

Kembali bertugas menyambut tamu negara, kembali berjibaku dengan segala pengurusan ijin sebelum ketibaannya. Pengurusan flight clearance, VIP room hingga weapon clearance merupakan serangkaian ijin yang rutin dilakukan untuk kunjungan kerja tamu-tamu negara. Ada yang berbeda dengan semua ijin kali ini. Semua dapat diselesaikan dengan cepat pada pihak Kementerian Luar Negeri RI, Mabes Polri maupun Mabes TNI AU yang biasanya memerlukan waktu yang berhari-hari dalam prosesnya. Hal ini karena berkaitan dengan acara akbar Asian African Commemoration (AACC) 2015.

Negara Swedia hadir sebagai pemantau (observer). Menteri Luar Negeri Swedia, Ms. Margot Wallstrom, mewakili Perdana Menteri Swedia dalam menghadiri acara ini. Delegasi mendarat pada 22 April 2015 jam 06:00 WIB. Menjelang pendaratan delegasi, kami menyempatkan diri untuk berfoto ria sekedar menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi bandara Halim Perdanakusuma.

Suasana pagi bandara Halim Perdanakusuma

Tim penyambut delegasi

Minister Security officer dan Technical officer

Waktu pun menunjukan pukul 06:00 tetapi pesawat yang ditunggu belum juga terlihat di langit yang mulai mengemas karena semburat sang surya. Setelah delay hampir 30 menit, si burung besi yang membawa delegasi Swedia tersebut akhirnya mendarat juga. Rombongan tiba dengan pesawat Swedish Air Force.

Pesawat Swedish Air Force
  
Kedatangan Menteri Wallstrom di bandara Halim Perdanakusuma 

Sementara delegasi melepas jetlag di VIP room yang telah disediakan, tim yang ada segera bergerak melakukan imigrasi kedatangan, perijinan pemasukan senjata, dan persiapan konvoi kendaraan. Ada yang disesalkan pada persiapan konvoi kendaraan, dimana voorijder yang bertugas ternyata mendapatkan informasi yang salah dari pihak komandannya. Pengawal yang bertugas meluncur ke VIP bandara Soekarno Hatta. Akhirnya delegasi pun bergerak menuju Hotel Mulia Senayan tanpa pengawalan.

VIP room bandara Halim Perdanakusuma
Pengecekan Imigrasi Kedatangan


Pengecekan senjata
Kendaraan Menteri Wallstrom

Pengecekan voorijder

Dalam kunjungan kerjanya, Menteri Luar Negeri Swedia juga berkesempatan melakukan bilateral meeting dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ibu Retno L. P. Marsudi disela-sela acara konferensi. 

Menlu Swedia dan Menlu Indonesia setelah bilateral meeting

Menlu Wallstrom (belakang ke 5 dari kiri) pada sesi foto bersama pembukaan AACC

Disaat delegasi melakukan tugas-tugas mereka, kami para pekerja dibalik layar memerlukan relaksasi untuk sekedar mengisi tenaga dan beristirahat dari aktifitas-aktifitas yang memerlukan gerak cepat. Kami menyempatkan untuk mengisi perut dengan jajanan yang ada di sekitar Gelora Bung Karno diselingi guyonan untuk menghilangan kepenatan.

Melepas lelah dari KAA di depan Gelora Bung Karno

Bergaya penjual mie bakso

Ketoprak humor kah?

Menghubungi keluarga tetap utama

Di hari delegasi kembali ke Swedia pada 23 April 2015, Menteri Wallstrom menyempatkan diri berfoto bersama rekan-rekan dari Hotel Mulia Senayan sebelum meninggalkan hotel tersebut. Sesampainya di Jakarta Convention Center, Menteri pun berkesempatan untuk menyampaikan pidatonya.

Tim sukses Hotel Mulia Senayan bersama Menteri Wallstrom

Menteri Wallstrom menyampaikan pidato pada peringatan KAA ke 60

Menteri Wallstrom berbincang dengan PM Palestina, Rami Hamdallah (Ketiga dari kiri) 
dan Menlu Palestina Riyad al-Maliki (tengah)

Menteri Wallstrom berjumpa delegasi KAA lain

Menteri Wallstrom, Duta Besar Johanna dan delegasi Swedia
Sebelum meninggalkan KAA di JCC

Setelah menyampaikan pidato dan berjumpa beberapa relasinya, Menteri Wallstrom dan delegasi bergerak menuju bandara Halim Perdanakusuma untuk kembali ke Swedia pada penerbangan jam 12:00 WIB. Setibanya di bandara, kami ternyata berada pada urutan tunggu berikutnya karena delegasi Singapura pimpinan Perdana Menteri Lee Hsien Loong, delegasi Jepang yang dipimpin Perdana Menteri Shinzo Abe dan delegasi Brunei Darussalam yang dipimpin Sultan Hasanal Bolkiah meninggalkan Indonesia pada hari yang sama.

Setelah delegasi Brunei lepas landas, delegasi Menteri Wallstrom diterima oleh Staf Ahli Bidang Manajemen/Duta Besar, Kementerian Luar Negeri RI di ruang VVIP sementara kami kembali berjibaku dengan imigrasi keberangkatan dan ijin pengeluaran senjata.

Pesawat yang akan membawa sang menteri dan delegasi pun telah siap sedia pada posisinya. Delegasi pun beranjak dari ruang VVIP menuju pesawat Swedish Air Force dan mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh staf. Pengurusan kunjungan kali ini berjalan lancar dan sukses.

Delagasi Swedia di ruang VVIP Halim Perdanakusuma

Staf Ahli dari Kemlu mengantar delegasi

Pesawat Swedish Air Force bersiap take off

Dalahorse mengantar kepulangan delegasi

Delegasi Swedia pulang, tugas pun usai

Perasaan lega pun menyergap. Hal ini dikarenakan tugas yang dibebankan telah selesai dijalankan dengan sempurna. Ucapan terima kasih pun tak lupa disampaikan kepada seluruh pihak, baik staf Kemlu, staf Kepolisian, staf Imigrasi Halim Perdanakusuma, staf VVIP dan VIP room Halim Perdanakusuma, dan staf Suba Air atas segala bantuan yang telah diberikan. Sampai jumpa pada kunjungan berikutnya.